Yang Boleh dan Tidak Dalam Perihal Top Up

27 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Top up adalah istilah yang tak lagi asing sekarang ini. Bagaimana tidak, kini transaksi keuangan sudah banyak yang dilakukan secara digital atau online. Adanya e-wallet sampai e-money memang memudahkan transaksi yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari.

Nah, apakah mengenai top up ini juga dapat dilihat dari sudut pandang islam?

Pada dasarnya, top up adalah aktivitas dimana kamu menyerahkan sejumlah uang atau dana kepada penyedia layanan yang kemudian akan berubah wujudnya menjadi digital. Jika top up yang kamu lakukan tujuannya adalah untuk membeli sesuatu seperti token listrik, maka yang kamu dapatkan adalah kode sandi yang kemudian membuatmu dapat menikmati listrik dengan jumlah tertentu. Jika tujuannya adalah saldo pada dompet digital atau uang elektronik, maka jumlah saldomu akan bertambah.

Dalam aktivitas top up ini, akad yang digunakan adalah akad kontrak dengan pembayaran atas jasa tertentu dan dilakukan di awal sehingga manfaat dapat diperoleh setelahnya. Nah, ada dua jenis kontrak yang bisa terjadi yakni kontak kontan atau ijarah halan dan kontrak bertempo atau berjangka atau ijarah muajjalan atau ijarah maushufah fi al-dzimmah.

Nah untuk top up yang berkaitan dengan token listrik, pulsa, data internet hingga e-toll, kontrak yang digunakan adalah ijarah muajjalan. Manfaatnya yakni kamu dapat menggunakan listrik, berinternet dan melewati jalan tol termasuk sebagai aset atau token berjamin uang atau ma fi al-dzimmah.

Yang kemudian menjadi permasalahan adalah aset atau token berjamin ini sering kali menawarkan sesuatu yang tidak pas disebut sebagai manfaat. Lebih lanjut penjelasannya seperti berikut ini:

Token Berjamin Manfaat Mu’tabar

Sesuatu dapat disebut bermanfaat mu’tabar jika:

  • Berupa barang maka dapat dikuasai.
  • Berupa utang maka utangnya lunas.
  • Berupa pekerjaan maka pekerjaannya selesai.

Token Berjamin Manfaat Tidak Mu’tabar

Disebut berjamin manfaat tidak mu’tabar jika top up yang dilakukan dapat memberi harta pada orang lain.

Tidak boleh mempraktikkan oper tanggugan kecuali kepada orang yang memiliki ikatan utang kepada pihak yanng mengalihkan. Karena kita sudah mengetahui secaraa jelas bahwasanya hiwalah itu pada dasarnya adalah jual beli aset berjamin dengan aset berjamin yang lain. Karenanya, apabila ada pengalihan kepada orang yang tidak memiliki relasii utang kepada pihak pengalih maka akad semacam adalah sama artinya dengan jual beli barang ma’dum (fiktif).

Al-Muhaddzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi’i, juz 2, halaman: 144

Agar top up tetap menjadi sesuatu yang halal untuk dilakukan, baiknya adalah melihat manfaat yang diperoleh oleh pelaku top up. Seperti top up saldo untuk mendapat manfaat dari token listrik, pulsa atau data internet dengan jumlah yang disepakati.

Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi Maqmur ya sahabat, ada beberapa fitur yang bisa membantu kamu dalam beribadah seperti Pengingat ShalatPenunjuk Arah KiblatAl-qur’an DigitalJurnal Ibadah, dan Zakat. Download sekarang juga di Google Play!