Tradisi Halal Bihalal Benarkah Cuma Ada di Indonesia?

15 May 2021

Hari raya idul fitri merupakan hari kemenangan bagi umat islam yang telah menyelesaikan ibadah puasa di bulan suci ramadhan. Di hari ini, telah luntur segala dosa dan kesalahan dengan saling memaafkan satu sama lainnya. Setiap umat islam bagai kembali pada fitrah, suci seperti baru lahir dan memulai segalanya dari nol. Yang melekat pada dirinya hanyalah kebaikan saja.

Dalam merayakan idul fitri, ada sebuah tradisi yang lekat dan kerap dilakukan di Indonesia. Tradisi ini bernama halal bihalal, sebuah momen untuk berkumpul dengan keluarga, sanak saudara dan juga teman-teman. Nama tradisi ini memang berasal dari bahasa Arab, tapi tradisinya tidak dikenal di Arab. Bagaimana bisa?

Tradisi asli buatan Indonesia

Percaya tidak bahwa tradisi yang namanya berasal dari bahasa Arab ini justru tidak ada atau dilakukan di Arab? Halal bihalal ternyata memang tradisi Indonesia asli. Nama atau istilahnya saja diciptakan oleh orang Indonesia. Tepatnya adalah KH WAhab Chasbullah, tokoh Nahdlatul Ulama yang pertama kali mencetuskan istilah halal bihalal.

Dalam sejarahnya, pada tahun 1948 Presiden Soekarno mencari cara untuk meredam gejala disintegrasi bangsa yang memanas. Atas permintaan Bung Kanro, KH Wahab Chasbullan datang untuk memberi saran. Beliau kemudian menyarankan untuk menggelar acara silaturahmi di antara elit politik yang sedang saling sengit tersebut. Kala itu momentum Idul fitri juga sedang berlangsung, KH Wahab Chasbullah meminta Bung Karno untuk memanfaatkannya.

Merasa cocok dengan pendapat itu, Bung Karno kemudian menginginkan istilah yang lebih indah untuk dijadikan sebutan dari upaya mendinginkan kesengitan politik. Beliau ingin momen penting ini menjadi momentum dan memberi kesan untuk para elit yang datang. Akhirnya, KH Wahab Chasbullah mencetuskan nama ‘halal bihalal’ untuk momen penting ini.

Mengapa bisa tercetus halal bihalal?

Bisa dibilang istilah halal bihalal lahir secara spontan. Kata ini bahkan tidak ada akarnya jika dicari berdasarkan struktur gramatika bahasa Arab. KH Wahab Chasbullan sendiri awalnya menyebut istilah untuk momen penting ini dengan ‘thalabu halal bi thariqin halal’. Yang dimaknai sebagai pencarian penyelesaian masalah atau keharmonisan hubungan dengan cara maaf memaafkan kesalahan.

Tujuan dari halal bihalal ini awalnya adalah untuk memberikan kehalalan atas kesalahan atau dosa haram yang telah diperbuat. Jika dikaitkan dengan persengitan yang sedang terjadi maka yang dimaksudkan adalah melepaskan dosa dari para elit politik dengan cara duduk satu meja, berbicara dan saling memaafkan.

Setuju dengan konsep ini, Bung Karno kemudian mengundang seluruh tokoh politik ke istana untuk mengikuti halal bihalal saat idul fitri tiba. Saat itu menjadi kali pertama para elit politik yang kerap berbeda pendapat duduk bersama dan memikirkan kebaikan bangsa secara kompak. Dan sejak saat itulah acara saling bertemu, bicara dan bersalaman dikenal sebagai halal bihalal dan dilakukan oleh banyak lapisan masyarakat.

BACA JUGA : 12 Tingkat Persahabatan Dalam Bahasa Arab, Sudahkah Kamu Bertemu Qareen-mu?

Apakah ada hadits tentang halal bihalal?

Meski bukan tradisi yang turun dari zaman Nabi atau berasal dari Arab, mengenai memberi halal terhadap orang lain ternyata ada disebutkan dalam hadits. Berikut bunyi hadits tersebut :

“Barangsiapa yang telah menganiaya kepada orang lain baik dengan cara menghilangkan kehormatannya ataupun dengan sesuatu yang lain maka mintalah halalnya pada orang tersebut seketika itu, sebelum adanya dinar dan dirham tidak laku lagi (sebelum mati). Apabila belum meminta halal sudah mati, dan orang yang menganiaya tadi mempunyai amal sholeh maka diambilah amal sholehnya sebanding dengan penganiayaannya tadi. Dan apabila tidak punya amal sholeh maka amal jelek orang yang dianiaya akan diberikan pada orang yang menganiaya”. (HR. Al Bukhori)

Dari hadits di atas bisa disimpulkan bahwa jika seorang membuat kesalahan apapun bentuknya, ada baiknya untuk langsung meminta halal atau maaf saat itu juga. Sebab dengan melakukan itu, akan terhapus dosa karena berbuat keburukannya. Dan jika tak melakukannya, akan hilang segala amal baik serta diberikannya amal buruk orang yang disakiti pada dirinya.

Pada intinya, halal bihalal merupakan momen dimana setiap orang memiliki kesempatan untuk menghapus dosa baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak. Pun juga sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi. Momen ini memang lekat dengan idul fitri namun ada baiknya jika perilaku tersebut dilakukan kapan saja.

SELANJUTNYA : Arah Kiblat Indonesia Tahun 2021

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Amalan Sunnah Hari Jumat Oleh Nabi Muhammad 15 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Baca Doa Dan Dzikir Ini Setelah Shalat Fardhu 14 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Untuk Anak, Dapat Dibaca Setelah Shalat 13 September 2021