Sholat Di Rumah Saja, Tempat Ibadah Tutup Selama PPKM Darurat

3 July 2021

Mulai hari ini hingga 20 Juli 2021 mendatang, Pemerintah akan menerapkan PPKM Darurat di seluruh Jawa dan Bali. Aturan ini akan berlaku di sekitar 122 kabupaten dan kota yang disebut. Dalam salah satu aturan PPKM Darurat, peraturan tempat ibadah akan kembali ditutup, termasuk masjid dan mushola. Ini artinya, umat islam dianjurkan untuk sholat di rumah saja.

Pernah Terjadi Dalam Sejarah Islam

Ternyata, ketika ditelusuri kejadian seperti penutupan masjid ini pernah terjadi dalam sejarah islam. Dulu dikisahkan, masjid juga ditutup karena adanya wabah seperti sekarang ini. Kala itu, ibadah yang biasanya diadakan di masjid seperti sholat jumat atau sholat berjamaah juga ditiadakan.

Para ulama sebenarnya telah mengeluarkan fatwa tentang diperbolehkannya tidak sholat berjamaah atau sholat jumat di masjid jika ada udzur syar’iy. Terlebih jika ada arahan tambahan dari ulil amri, ulama atau ahli kesehatan setempat. Selain itu, ada juga kaidah fikh yang menjelaskan bahwa mencegah madharat lebih penting untuk didahulukan ketimbang nantinya mendatangkan mashalat. Di era COVID-19 ini, kesehatan bisa diutamakan daripada ancaman mashalat seperti penularan virus. Jadi tak masalah jika harus sholat di rumah saja.

Dalil Yang Menyatakan Tentang Sholat Di Rumah Secara Tersirat

Kita tahu bahwa sholat berjamaah di masjid mengandung banyak sekali kebaikan serta pahala. Namun jika dilakukan di masa pandemi seperti ini bisa saja menjadi masalah untuk penularan virus. Meski banyak masjid di Indonesia yang telah patut menerapkan protokol kesehatan.

Tak perlu bersedih hati karena tidak bisa berjamaah di masjid. Dari sebuah dalil disebutkan bahwa hanya karena bau bawang putih saja, seseorang lebih baik tidak mendatangi masjid. “Barangsiapa yang memakan sayuran ini, maka janganlah mendekati masjid kami hingga hilang baunya.” (HR. Muslim No. 561). Hal sesepele bau yang bisa mengganggu penciuman saja dianjurkan untuk sholat di rumah, apalagi yang berbahaya seperti virus.

Unduh Aplikasi MAQMUR Di Ponselmu Sekarang

Fatwa MUI Tentang Imbauan Sholat Di Rumah

Pada tahun 2020, MUI mengeluarkan fatwa mengenai sholat berjamaah di masjid atau di rumah yang berkaitan dengan virus COVID-19. Dalam fatwa nomor 14 disebutkan jika dalam kondisi penyebaran COVID-19 yang tidak terkendali di suatu wilayah dan mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan sholat Jumat di wilayah tersebut. Hal ini diberlakukan hingga situasi menjadi normal kembali. Umat Islam wajib menggantinya dengan sholat dhuhur di tempat masing-masing (rumah).

Disebutkan pula, jika kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu wilayah dan mengancam jiwa, tidak boleh ada aktivitas ibadah yang melibatkan banyak orang dan diyakini bisa menjadi perantara penyebaran COVID-19. Yang dimaksudkan mencakup sholat jamaah lima waktu atau rawatib, tarawih dan ied. Majelis taklim dan pengajian umum pun juga termasuk di dalamnya.

Aturan PPKM Darurat Lengkap

1. 100% Work from Home untuk sektor non essential

2. Seluruh kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online/daring

3. Untuk sektor essential diberlakukan 50% maksimum staf Work from Office (WFO) dengan protokol kesehatan, dan untuk sektor kritikal diperbolehkan 100% maksimum staf work from office (WFO) dengan protokol kesehatan.

a. Cakupan sektor essential adalah keuangan dan perbankan, pasar modal, sistem pembayaran, teknologi informasi dan komunikasi, perhotelan non penanganan karantina, serta industri orientasi ekspor.

b. Cakupan sektor kritikal adalah energi, kesehatan, keamanan, logistik dan transportasi, industri makanan, minuman dan penunjangnya, petrokimia, semen, objek vital nasional, penanganan bencana, proyek strategis nasional, konstruksi, utilitas dasar (listrik dan air), serta industri pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sehari-hari.

c. Untuk supermarket, pasar tradisional, toko kelontong, dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari dibatasi jam operasional sampai pukul 20.00 waktu setempat dengan kapasitas pengunjung 50% (lima puluh persen);

4. Kegiatan pada pusat perbelanjaan/mall/pusat perdagangan ditutup

5. Restoran dan Rumah Makan hanya menerima delivery/take away

6. Pelaksanaan kegiatan konstruksi (tempat konstruksi dan lokasi proyek) beroperasi 100% (seratus persen) dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat;

7. Tempat ibadah (Masjid, Mushola, Gereja, Pura, Vihara dan Klenteng serta tempat umum lainnya yang difungsikan sebagai tempat ibadah) ditutup sementara

8. Fasilitas umum (area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya) ditutup sementara;

9. Kegiatan seni/budaya, olahraga dan sosial kemasyarakatan (lokasi seni, budaya, sarana olahraga, dan kegiatan sosial yang dapat menimbulkan keramaian dan kerumunan) ditutup sementara;

10. Transportasi umum (kendaraan umum, angkutan masal, taksi (konvensional dan online) dan kendaraan sewa/rental) diberlakukan dengan pengaturan kapasitas maksimal 70% (tujuh puluh persen) dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat;

11. Resepsi pernikahan dihadiri maksimal 30 (lima puluh) orang dengan menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat dan tidak diperkenankan makan ditempat resepsi. Makanan tetap dapat disediakan dengan wadah tertutup untuk dibawa pulang.

12. Pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi jarak jauh (pesawat, bis dan kereta api) harus menunjukkan kartu vaksin (minimal vaksin dosis I) dan PCR H-2 untuk pesawat serta Antigen (H-1) untuk moda transportasi jarak jauh lainnya.

13. Satpol PP Pemerintah Daerah, TNI, Polri agar melakukan pengawasan yang ketat terhadap pemberlakuan pengetatan aktivitas masyarakat diatas terutama pada poin 3.

14. Penguatan 3T (Testing, Tracing, Treatment) perlu terus diterapkan:

a. Testing perlu terus ditingkatkan mencapai minimal 1/1000 penduduk / minggu. Testing perlu terus ditingkatkan sampai positivity rate <5%. Testing perlu terus ditingkatkan untuk suspek, yaitu mereka yang bergejala, dan juga pada kontak erat.

b. Tracing perlu dilakukan sampai mencapai >15 kontak erat per kasus konfirmasi. Karantina perlu dilakukan pada yang diidentifikasi sebagai kontak erat. Setelah diidentifikasi kontak erat harus segera diperiksa (entry-test) dan karantina perlu dijalankan. Jika hasil pemeriksaan positif maka perlu dilakukan isolasi. Jika hasil pemeriksaan negatif maka perlu dilanjutkan karantina. Pada hari ke-5
karantina, perlu dilakukan pemeriksaan kembali (exit-test) untuk melihat apakah virus terdeteksi setelah/selama masa inkubasi. Jika negatif, maka pasien dianggap selesai karantina.

c. Treatment perlu dilakukan dengan komprehensif sesuai dengan berat gejala. Hanya pasien bergejala sedang, berat, dan kritis yang perlu dirawat di rumah sakit. Isolasi perlu dilakukan dengan ketat untuk mencegah penularan.

15. Pencapaian target vaksinasi sebesar 70% dari total populasi pada kota/kabupaten prioritas paling lambat bulan Agustus 2021

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Amalan Sunnah Hari Jumat Oleh Nabi Muhammad 15 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Baca Doa Dan Dzikir Ini Setelah Shalat Fardhu 14 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Untuk Anak, Dapat Dibaca Setelah Shalat 13 September 2021