Menjalani Long Distance Marriage, Bagaimana Hukumnya Dalam Islam?

21 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Apakah ada di antara kamu yang sedang menjalani long distance marriage atau pernikahan jarak jauh? Ternyata ini bukan fenomena yang asing loh karena tidak sedikit pasangan yang melakukannya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan pasangan yang telah menikah harus menjalani rumah tangga jarak jauh seperti pendidikan atau pekerjaan. Lalu bagaimana ya pandangan islam mengenai hal ini?

Pada dasarnya, penikahan memiliki tujuan untuk memberi rasa nyaman satu sama lainnya dengan cara saling memberi kasih sayang. Hal ini seperti yang dituliskan pada firman Allah tepatnya pada surat Ar-rum ayat 21. Ayat tersebut berbunyi:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Lalu apakah dengan menjalani rumah tangga jarak jauh pasangan yang sudah menikah dapat memberikan rasa tentram satu sama lain?

Ada beberapa pendapat yang mungkin akan menjawab rasa penasaranmu. Misalnya seperti yang dijelaskan oleh Ustadz Quraish Shihab seperti dikutip dari Kumparan. Beliau menyebutkan bahwa pasangan suami istri hendaknya saling mendampingi baik secara fisik atau batin. Oleh karenanya, berpisah secara fisik tentu sudah tidak sesuai dengan tujuan dari pernikahan.

Selain itu, ada sebuah kondisi yang disebut dengan taklik talak. Ini adalah talah yang jatuh atas kondisi tertentu atau talak gantung. Salah satu kondisi yang dimaksudkan adalah jika suami meninggalkan istri dalam waktu tertentu dan istri merasa tidak rela. Dengan kondisi ini maka talak bisa dijatuhkan.

Nah, jika pasangan mesti terpisah secara fisik dan tidak ingin talak tersebut jatuh maka mereka mesti memiliki kerelaan satu sama lain. Keduanya mesti setuju untuk menjalani long distance marriage.

Selain itu, dalam Al-qur’an ternyata juga terdapat kisah mengenai pasangan suami istri yang berjauhan. Kisah tersebut adalah mengenai Nabi Ibrahim dan Siti Hajar. Jadi dikisahkan suatu ketika Nabi Ibrahim mengajak istrinya melakukan perjalanan jauh dari Palestina ke sebuah lembah. Sesampainya disana, Nabi Ibrahim kemudian kembali ke Palestina dan meninggalkan istrinya pada tempat yang kini disebut dengan Mekkah. Ternyata Nabi Ibrahim meninggalkannya selama bertahun-tahun.

Saat akhirnya Nabi Ibrahim kembali ke lembah dimana istrinya berada adalah waktu dimana perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail diberikan. Dapat disimpulkan bahwa hubungan jarak jauh yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan istrinya terjadi karena keduanya memiliki keyakinan. Dimana Nabi Ibrahim yakin atas perintah Allah, sedang Siti Hajar yakin pada suaminya.

Kunci Penting Menjalani Long Distance Marriage

Dalam menjalani long distance marriage atau pernikahan jarak jauh, tentu akan lebih banyak kendala dan masalah yang timbul karena berpisah secara fisik. Oleh karenanya, pasangan yang sedang menjalani LDM mesti memperhatikan beberapa kunci penting berikut ini agar pernikahan yang dijalani tetap berjalan langgeng.

Mengutamakan Komunikasi

Karena tidak dapat bertemu secara fisik, maka pasangan yang sedang menjalani rumah tangga jarak jauh mesti mengutamakan komunikasi. Tak hanya membicarakan hal-hal penting saja, namun juga bertukar perasaan sehingga meminimalisir salah paham. Dengan begitu, rumah tangga tetap harmonis.

Batas Empat Bulan

Jarak yang jauh sering kali membuat pasangan jarang bertemu bahkan bisa dalam waktu yang lama. Meski begitu, Umar bin Khattab memberi batas waktu maksimal empat bulan untuk pasangan suami istri berpisah secara fisik. Sebaiknya sebelum waktu tersebut, suami istri hendaknya bertemu.

Menghindari Syahwat

Tidak dipungkiri bahwa ada kebutuhan yang mesti dipenuhi. Suami pun memiliki kewajiban untuk memberi nafkah batin pada istri. Ketika menjalani rumah tangga jarak jauh, hal ini tentu sulit untuk dipenuhi. Oleh karena itu, bijaknya seorang suami kembali pulang ke rumah dalam waktu yang ditentukan salah satunya untuk memenuhi kewajiban tersebut.