Lebaran 2021 Jatuh Pada Hari Apa?

10 May 2021

Setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama kurang lebih 30 hari, umat Islam dengan sukacita menyambut datangnya lebaran atau hari raya. Datangnya awal bulan Syawal ini menjadi momen yang ditunggu dan biasanya penentuannya disiarkan secara langsung di televisi. Kita mungkin sering mendengarnya dengan sebutan sidang isbat. Lantas bagaimana dengan lebaran 2021?

Tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, sidang isbat akan juga dilakukan di tahun 2021 ini. Di Indonesia sendiri, sidang isbat dijadwalkan akan dilakukan pada tanggal 11 Mei 2021. Kamu mungkin jadi penasaran, sebenarnya seperti apa sih cara menentukan jatuhnya hari raya? Berikut ini beberapa cara menentukan hari raya idulfitri berdasarkan pihak yang menentukannya :

  • Muhammadiyah

Untuk lebaran 2021, pihak Mihammadiyah telah menentukan kapan jatuhnya Hari Raya Idulfitri. Melalui Maklumat Nomor 01/ML.M/I.0/E/2021 tentang penetapan hasil hisab Ramadan, Syawal dan Zulhijah 1442 H, 1 Syawal 1442 ditetapkan jatuh pada Kamis 13 Mei 2021.

Dalam penentuannya, Muhammadiyah menggunakan hisab wujud al-hilal yaitu metode penetapan awal bulan baru yang merujuk pada 3 parameter : 1) Terjadinya konjungsi atau ijtimak, 2) Ijtimak sebelum matahari terbenam dan 3) Saat matahari terbenam, bulan sedang ada di atas ufuk.

  • NU (Nahdlatul Ulama)

Untuk lebaran 2021, NU belum menentukan kapan akan melakukan sidang isbat. Meski begitu, umumnya NU melakukan penentuan hari raya dengan menggunakan pengamatan hilal atau rukyatul hilal. Ini adalah metode dimana dilakukannya observasi pada lengkungan bulan sabit tertipis yang memiliki ketinggian rendah di atas ufuk barat dan dilakukan pasca matahari terbenam.

Dalam melakukannya, ada tiga cara yaitu dengan mata telanjang, memakai mata dengan bantuan teleskop atau hanya dengan teleskop yang terkoneksi dengan kamera atau sensor. Kegiatan pengamatan ini biasanya akan dilakukan oleh LFNU (Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama) dan dilaporkan ke PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

  • Pemerintah melalui Kementerian Agama

Dalam menentukan lebaran 2021, Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat di hari yang sama dengan NU. Sidang isbat ini akan disiarkan secara daring dan juga dilakukan secara luring. Metode yang digunakan pemerintah untuk menentukan 1 Syawal adalah rukyatul hilal.

Ada beberapa tahap yang akan dilakukan yaitu pemaparan posisi hilal awal syawal oleh Tim Unifikasi Kalender Hijriah kemenag di sore hari. Kemudian dilanjutkan setelah waktu berbuka puasa yaitu dengan pemaparan laporan data hisab dan rukyatul hilal dari 88 titik di seluruh Indonesia. Dan yang terakhir adalah hasil sidang isbat melalui telekonferensi oleh Menteri Agama.

Selain 3 cara di atas, ada juga beberapa metode yang sering dilakukan untuk menentukan jatuhnya 1 Syawal. Cara-cara tersebut ialah :

  • Pengamatan pasang surut air laut

Selain mengamati bulan sabit atau rukyatul hilal, ada juga cara menentukan 1 Syawal dengan melihat pasang surutnya air laut. Mengapa fenomena ini bisa dijadikan patokan dalam menentukan hari raya? Pasang surut air laut biasanya terjadi berulang dengan periode tertentu. Ketika air laut sedang dalam posisi tertinggi biasanya ini adalah waktu terjadinya ijtimak atau bulan baru. Inilah yang kemudian dijadikan penanda bergantinya bulan baru atau jika dihubungkan dengan lebaran adalah tanda datangnya 1 Syawal.

  • Hisab imkan ruykat

Di Indonesia, ada dua metode paling umum yang dipakai untuk menentukan hari lebaran yaitu hilal dan hisab. Tapi ternyata ada jalan tengah dari kedua metode itu, namanya hisab imkan rukyat. Metode ini menterjemahkan hilal yang dihitung atau diamati menjadi angka-angka.

Ada pendapat populer tentang metode ini yang disebut dengan imkan rukyat MABIMS (Majelis Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia) dimana lebaran bisa ditentukan dengan dua kriteria. Pertama, jika saat matahari terbenam ketinggian bulan ada di atas cakrawala dengan minimal 2 derajat dan jarak lengkung bulan-matahari minimal 3 derajat. Kriteria kedua adalah pada saat bulan terbenam, usia bulan minimal 8 jam dihitung sejak keluarnya bulan baru.

  • Perhitungan aboge

Cara penentuan syawal yang satu ini hanya ada di Indonesia. Adanya cara ini merupakan wujud interelasi agama Islam dengan kebudayaan Jawa. Dalam metode ini, datangnya bulan baru syawal dihitung menggunakan kalender Jawa Islam atau Kejawen. Ini adalah kalender Hindu atau Saka yang dipadukan dengan kalender Hijriyah. Tak heran jika kadang kala lebaran menurut perhitungan Jawa berbeda dengan lebaran versi pemerintah atau Muhammadiyah.

Download Aplikasi MAQMUR Di Sini

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Amalan Sunnah Hari Jumat Oleh Nabi Muhammad 15 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Baca Doa Dan Dzikir Ini Setelah Shalat Fardhu 14 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Untuk Anak, Dapat Dibaca Setelah Shalat 13 September 2021