It’s Payday, Sudah Tahu Tentang Zakat Profesi?

25 June 2021

Akhirnya hari ini datang juga, it’s payday! Alias selamat datang hari gajian. Pastikan kamu langsung membagi pendapatanmu sesuai dengan pos-posnya ya. Apa saja itu? Pos kebutuhan sehari-hari, pos tagihan atau cicilan, pos tabungan atau dana darurat serta pos untuk sedekah dan zakat. Berhubung masih di hari gajian, kamu perlu tahu tentang zakat profesi atau zakat penghasilan.

Jika ini adalah kali pertama kamu mendengar tentang zakat profesi, maka kamu wajib membaca artikel ini hingga selesai. Akan dijelaskan tentang pengertian zakat ini, cara membayar hingga pendapat ulama. Simak selengkapnya ya.

Penjelasan mengenai zakat profesi

Sesuai dengan namanya, zakat penghasilan atau profesi ini merupakan zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan baik yang dilakukan secara mandiri atau di bawah naungan perusahaan atau perseorangan. Karenanya, zakat ini dilakukan setiap kali menerima pendapatan atau normalnya satu dalam satu bulan.

Biasanya ada yang keliru membedakan zakat profesi dan mal, padahal keduanya berbeda. Zakat mal dikeluarkan dari harta yang telah mencapai nisab, biasanya dilakukan secara tahunan. Sedangkan zakat profesi dilakukan setiap bulan dan mengambil dari total pendapatan yang diperoleh. Namun keduanya memiliki persamaan yaitu besaran 2,5%.

Apakah wajib dilakukan?

Dalam surat alquran Adz-Dzariyat ayat 19, Allah berfirman “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang yang meminta dan orang-orang miskin yang tidak mendapatkan bagian.” Karena itu, zakat penghasilan sifatnya ada dan wajib dilakukan.

Cara membayar zakat profesi

Untuk membayar zakat, kamu bisa memberikannya ke lembaga-lembaga terpercaya seperti Dompet Dhuafa yang kini telah bekerjasama dengan Maqmur. Dengan mempercayakan zakat pada lembaga, tujuan untuk menunaikan zakat serta penyaluran akan terlaksana dengan baik. Kini yang perlu kamu ketahui adalah bagaimana cara menghitung besaran zakat yang harus kamu bayarkan.

Pada dasarnya, zakat dikeluarkan dengan besaran 2,5 %. Nah untuk zakat penghasilan atau profesi, ada tiga cara pendekatan nisab yaitu dengan analogi emas atau perak, analogi zakat pertanian dana nalogi keduanya. Di Indonesia melalui Kementerian Agama RI, ada Peraturan Menteri Agama No 31 Tahun 2019 yang menyatakan bahwa nisab zakat penghasilan senilai 85 gram emas dengan ketentuan harga emas terbaru di tahun tersebut. Kemudian untuk kadar zakat pendapatan dan zakat besarannya 2,5 %.

Unduh Aplikasi MAQMUR Untuk Bayar Zakat Lebih Mudah

Pendapat ulama

Ada dua kubu pendapat mengenai apakah zakat profesi harus dilakukan atau tidak. Kubu pertama berpendapat zakat ini tidak wajib dilakukan sebab tidak ada pada zaman Nabi. Selain itu juga, penghasilan yang diterima tentu akan habis dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Namun ada juga ulama lain yang berpendapat bahwa zakat ini wajib dilakukan terutama untuk pekerja profesional.

Seperti Dr Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab Fiqhuz-Zakah yang menyebutkan bahwa zakat penghasilan wajib dikeluarkan ketika menerima gaji. Penghasilan tersebut dikurangi hutang dan harus mencapai nisab terlebih dahulu. Prof. Dr.K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc. juga berpendapat sama. Ia menambahkan bahwa zakat ini bisa dilakukan oleh mereka yang bekerja sendiri atau bersama lembaga atau orang lain. Dari pendapat-pendapat ini disimpulkan bahwa sebaiknya ketika harta yang dimiliki telah mencapai nisab, sebaiknya dikeluarkan sebagian untuk zakat penghasilan.

Syarat untuk tunaikan zakat

Jika kamu sudah memenuhi syarat-syarat yang akan disebutkan di bawah ini, maka kamu bisa menunaikan zakat profesi. Apa sajakah syaratnya?

  • Beragama islam
  • Merdeka, tidak dalam perbudakan serta memiliki pekerjaan yang halal
  • Berakal sehat agar zakat dihitung secara adil dan dilakukan dengan sadar
  • Mencapai baligh. Muslim yang sudah berpenghasilan namun belum baligh tidak wajib membayar zakat profesi.
  • Memiliki penghasilan yang mencapai nisab. “Semua bentuk penghasilan halal wajib dikeluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.” (Fatwa MUI No.7 tahun 2003)
  • Penghasilan sudah mencapai haul. Jika total pendapatan selama satu tahun mencapai harga emas 85 gram, maka wajib hukumnya berzakat. Ini menurut fatwa MUI dimana haul dihitung dalam kurun waktu satu tahun.

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Amalan Sunnah Hari Jumat Oleh Nabi Muhammad 15 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Baca Doa Dan Dzikir Ini Setelah Shalat Fardhu 14 September 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Untuk Anak, Dapat Dibaca Setelah Shalat 13 September 2021