Hukum Menukarkan Uang Dalam Islam

26 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Menukar uang atau kegiatan tukar uang biasanya paling sering terjadi ketika mendekati hari raya idul fitri. Tak hanya melalui bank, kita bahkan bisa menukar uang di penyedia jasa dadakan yang ada di pinggir jalan. Fenomena ini muncul seiring dengan tradisi bagi-bagi uang THR ke keponakan atau saudara yang lebih muda.

Saat menukarkan uang dari pecahan besar ke pecahan kecil, biasanya akan ada biaya tambahan dengan besaran yang beragam. Ada juga yang mengenakan potongan dengan jumlah tertentu. Hal-hal inilah yang kemudian membuat perkara menukar uang diperdebatkan hukumnya. Apakah boleh, mubah atau justru haram. Berikut ini beberapa penjelasan yang dapat kamu simak.

Tukar Menukar Dalam Islam

Barter atau tukar menukar sebenarnya sudah terjadi bahkan di jaman Rasulullah. Islam bahkan juga memiliki aturan tentang perkara tukar menukar ini. Adapun syarat dan ketentuan dalam barter adalah jumlah, jenis transaksi dan jenis barang. Pada sebuah hadits disebutkan:

Jika emas dibarter dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum bur (gandum halus) ditukar dengan gandum bur, gandum syair (kasar) ditukar dengan gandum syair, korma ditukar dengan korma, garam dibarter dengan garam, maka takarannya harus sama dan tunai. Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai.

HR. Muslim 4147

Dari hadits ini kita dapat menyimpulkan bahwa barter dilakukan secara tunai dan dalam jumlah yang sama. Jika barang yang ditukar berbeda jenisnya, ada juga hadits yang menyebutkan tentang perkara ini yaitu:

Jika benda yang dibarterkan berbeda maka takarannya boleh sesuka hati kalian asalkan tunai.

Bagaimana Dengan Menukar Uang?

Jika berdasarkan dua hadits di atas, maka hukum menukar uang yang biasa terjadi ketika menjelang lebaran itu bisa jadi haram. Sebab untuk menukar barang sejenis yakni uang, nilainya haruslah sama dan tunai. Sedangkan yang terjadi adalah adanya potongan dengan jumlah tertentu atau lebih nilai. Karena itulah nilai dalam transaksi menjadi tidak sama antara dua pihak.

Dalam sebuah hadits lain juga disebutkan bahwa hal tersebut dapat menimbulkan dosa sebab termasuk dalam riba. Hadits tersebut berbunyi:

Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, sya’ir (gandum kasar) ditukar dengan sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, takaran atau timbangan harus sama dan dibayar tunai. Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.

HR. Ahmad 11466 & Muslim 4148

Fatwa MUI Tentang Menukar Uang

Ketentuan atau hukum penukaran uang menurut Islam telah tertuang dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang Jual Beli Mata Uang (Al-Sharf) pada tahun 2002. Dalam fatwa tersebut dijelaskan bahwa pada dasarnya transaksi tukat menukar uang atau jual beli uang (Ash-Sharaf) sebenarnya boleh. Namun ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar transaksi tersebut tidak menjadi riba. Di antaranya ada ketentuan dimana transaksi tidak boleh dilakukan untuk spekulasi semata.

Selain itu, jika yang ditukarkan adalah mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan tunai. Selain itu, Irfan Syauqi Beik, pengamat dan praktisi ekonomi syariah dari IPB juga menambahkan bahwa transaksi harus dilakukan di lokasi atau on the spot. Dan jika hal tersebut tidak dipenuhi, maka transaksi menukar uang dapat menjadi riba.

Mengingat riba adalah tindakan yang tidak diperbolehkan dalam aturan islam, ada baiknya jika ingin menukar uang dengan cara yang benar saja. Misalnya dengan datang ke bank yang menyediakan jasa tukar uang.

Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi Maqmur ya sahabat, ada beberapa fitur yang bisa membantu kamu dalam beribadah seperti Pengingat ShalatPenunjuk Arah KiblatAl-qur’an DigitalJurnal Ibadah, dan Zakat. Download sekarang juga di Google Play!