Hukum Jastip Dalam Islam Apakah Diperbolehkan?

18 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Banyak sekali jenis bisnis atau usaha yang makin populer di masa pandemi ini. Salah satunya adalah jastip atau jasa titip. Seseorang yang berbisnis ini akan pergi ke tujuan perbelanjaan tertentu, kemudian memotret barang-barang yang ada di sana dan menawarkan untuk membelikannya. Tentu ada uang jasa yang mesti dikeluarkan sebab para pelanggan tidak perlu repot keluar rumah. Nah, mengenai fenomena bisnis jastip ini bagaimana ya hukumnya dalam islam?

Hukum Jastip Dalam Islam

Bisnis jastip memiliki banyak kelebihan terlebih di masa pandemi ini. Di antaranya adalah mudah dilakukan, modal yang tak selalu besar serta fleksibel mengenai waktu. Tak heran jika kini makin populer dan bisa ditemukan di berbagai platform media sosial. Nah tapi, bagaimana Islam mengatur mengenai hukum bisnis seperti jastip atau jasa titip ini ya?

Ustadz Oni Sahroni, ahli fikih muamalah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) menjelaskan bahwa bisnis jastip ini diperbolehkan. Tentu saja dalam pelaksanaannya, pelaku jastip mesti mematuhi hukum syariah yang ada. Pada Republika, Ustadz Oni Sahroni mengatakan, “Dengan catatan, jasa yang diperjualbelikan tersebut itu halal dan upah atau fee yang menjadi kewajiban penitip itu diketahui jumlah fee-nya pada saat penitipan,” Selain itu, tentunya barang yang diperjualbelikan tentu bukan merupakan yang dilarang atau haram dalam Islam.

Ada juga beberapa pendapat lain yang ditemukan dari berbagai sumber. Kamu dapat membacanya sebagai referensi dan juga pengetahuan tambahan. Di antaranya pada Umma, Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah menyebutkan ada 3 gambaran yang mungkin terjadi dalam bisnis jastip, yaitu:

  • Jika B membeli barang memakai uangnya kemudian ia meminta uang jasa, maka ini adalah riba. Sebab A hutang kepada B lalu membayar lebih kepadanya.
  • Jika B membeli barang memakai uangnya dulu lalu A membeli barang tersebut ke B, B dapat mengambil keuntungan. Ini disebut jual beli atau murabahah.
  • Jika A menitipkan uang kepada B lalu B menggunakannya untuk membeli barang yang diinginkan A, saat barang didapat dan diserahkan kepada A, B diberi fee oleh A. Ini disebut ijarah atau sewa jasa.

https://maqmur.com/post/sudah-terima-gaji-simak-mengenai-zakat-profesi/Ada juga pendapat dari Ustadz Ammi Nur Baits dikutip dari Okezone, dimana ada dua skema mengenai jastip yang bisa dipakai dan tetap sesuai dengan syariat. Skema tersebut adalah wakalah atau murabahah. Skema murabahah memiliki penjelasan yang kurang lebih sama dengan poin di atas. Sedangkan untuk skema wakalah atau jadi wakil, dijelaskan berikut ini.

Pada skema wakalah, wakil yaitu orang yang melakukan jastip melakukan kesepakatan dengan pembeli. Di sini wakil harus transparan mengenai harga barang, biaya transportasi dan lainnya diluar uang jasa. Wakil kemudian mengambil untung dari biaya jasa yang sudah disepakati.

Mengingat bisnis jastip diperbolehkan dalam Islam, kamu bisa mengambil peluang usaha ini selama pandemi untuk mendapatkan tambahan pemasukan. Tentu saja sebaiknya dilakukan sesuai dengan syariat yang ada dan menjauhi riba.

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Keutamaan Sholat Tepat Waktu dan Tips Melaksanakannya 6 December 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Pagi Yang Berisi Permintaan Rasulullah 2 December 2021
Blog, Inspirasi Islami
Jangan Membaca Al-qur’an Dengan Niat Berikut Ini 30 November 2021