Gali Lubang Tutup Lubang, Apa Hukumnya Dalam Islam?

29 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Asal dilakukan sesuai dengan aturan yang ada dalam islam, berutang termasuk hal yang diperbolehkan. Sayangnya tidak semua orang tahu bahwa berutang adalah sebuah tanggung jawab yang besar mengingat ini berkaitan dengan komitmen untuk melunasinya. Dalam salah satu ikhtiar melunasi utang, sering kali seseorang melakukannya dengan keliru yakni menggunakan metode ‘gali lubang tutup lubang’. Alias berhutang lagi demi menutup atau melunasi hutang sebelumnya. Apakah hal ini diperbolehkan?

Sebelumnya mari kita ketahui, dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menjelaskan:

Sesungguhnya sebagian dari orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam membayar (utang),

HR Bukhari

Dari sini kita dapat mengerti bahwa membayar hutang adalah kewajiban. Namun bagaimana jika sudah jatuh tempo waktu membayar hutang namun orang tersebut tidak memiliki uang yang cukup? Apakah wajib untuk memaksakan usaha agar dana untuk utang segera tersedia?

Dilansir dari NU Online, ada dua hal yang mesti diperhatikan. Pertama yakni hukum berutang pada utang yang pertama lalu hukum melunasi utang pada jatuh tempo.

Ulama fiqih menyebutkan bahwa hukumnya tidak wajib bagi seseorang untuk mengupayakan terwujudnya keadaan yang mewajibkan seseorang untuk melakukan suatu hal. Maksudnya, jika berkaitan dengan utang, menurut ulama tidak wajib untuk bergegas bekerja agar menghasilkan uang. Lalu ketika uang telah didapat kemudian wajib baginya melunasi utang. Lebih lanjut dijelaskan, seseorang tersebut bisa bekerja kapan saja tanpa melihat tuntutan kewajiban dari syariat secara khusus. Sebab bekerja merupakan tahshilu sabab al-wujub.

Selama seseorang tersebut tidak abai dalam melunasi utangnya, maka ia dapat bekerja kapan saja agar mendapatkan uang untuk melunasi utang. Hal ini juga disebutkan dalam kitab al-Majmu ala Syarh al-Muhadzab:

Jika orang yang memiliki tanggungan utang dapat bekerja dengan baik, maka ia tidak boleh dipaksa untuk bekerja supaya dapat melunasi utangnya. Ketentuan demikian merupakan salah satu keagungan Syariat Islam, kemerdekaan seseorang lebih berharga dari segala hal, tidak ada harta dan tanggungan yang dapat menandinginya, kemerdekaan ini tidak terikat dengan orang yang memberi utang ataupun seorang raja sekalipun. Tetapi jika ia bekerja dan menghasilkan harta yang lebih untuk menafkahi dirinya dan keluarganya, maka pada saat itulah ia menggunakan uang tersebut untuk membayar utangnya.

Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 13, Hal. 272

Kemudian untuk perihal waktu pelunasan utang atau jatuh tempo, para ulama syafi’iyah menyebut bahwa standar waktu kewajiban pembayaran utang tidak bertumpu pada waktu tempo yang biasanya ditentukan oleh pemberi utang. Namun waktu wajibnya adalah ketika penerima utang telah memiliki harta yang cukup untuk melunasinya. Sehingga jika ketika datang waktu jatuh tempo dan penerima utang belum mampu, maka pemberi utang tidak berhak menagih.

Meski begitu, bukan berarti seorang penerima utang boleh abai dalam melunasi utang yang ia miliki. Jika telah memutuskan untuk menerima utang, ada baiknya memegang penuh komitmen untuk segera melunasi utang tersebut. Sebab:

Sesungguhnya sebagian dari orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam membayar (utang),

HR Bukhari

Terlebih, terlibat dalam masalah utang yang berkelanjutan juga dapat membawa dampak yang tidak baik. Salah satu contoh paling mudah adalah renggang atau putusnya tali silaturahmi terutama jika utang terjadi dalam hubungan keluarga atau kerabat. Dikhawatirkan terjadi ketidakharmonisan antara pemberi utang dan orang yang berutang karena masalah waktu pelunasan utang.

Oleh karenanya, ada baiknya kita mengambil langkah bijak sebelum benar-benar ingin melakukan utang. Dan jikapun terpaksa, pegang komitmen untuk melunasi dan tidak teledor dalam menepatinya.

Jangan lupa untuk mengunduh aplikasi Maqmur ya sahabat, ada beberapa fitur yang bisa membantu kamu dalam beribadah seperti Pengingat ShalatPenunjuk Arah KiblatAl-qur’an DigitalJurnal Ibadah, dan Zakat. Download sekarang juga di Google Play!