Bayar DP Saat Transaksi Jual Beli, Bagaimana Hukumnya?

12 November 2021

Assalamualaikum Sahabat Maqmur,

Dalam transaksi jual beli, terdapat beragam cara pembayaran mulai dari tunai kontan hingga pemberian DP atau Down Payment. Cara terakhir tersebut juga memiliki nama lain yaitu uang muka atau tanda jadi. Ini adalah cara pembayaran dengan membayarkan sejumlah uang terlebih dahulu di muka sebagai tanda bahwa transaksi disetujui atau dilanjutkan. Nah seperti apa ya hukum bayar DP saat transaksi jual beli menurut pandangan Islam?

Sebelumnya, mari kita tahu terlebih dahulu bahwa DP atau down payment atau uang panjar memiliki bahasa Arab al ‘urbuun. Kata ini memiliki padanan al urbaan, al ‘urbaan dan al urbuun dimana secara bahasa artinya adalah kata jadi transaksi dalam jual beli. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ini merupakan sejumlah uang di muka dimana jika transaksi dilanjutkan maka uang tersebut masuk ke dalam harga pembayaran. Dan jika tidak dilanjutkan maka uang menjadi milik penjual.

Pada kitab Al Mughni 6/331disebutkan bahwa:

Apabila saya ambil barang tersebut maka ini adalah bagian dari nilai harga dan bila tidak jadi saya ambil maka uang (DP) tersebut untukmu. Atau seorang membeli barang dan menyerahkan kepada penjualnya satu dirham atau lebih dengan ketentuan apabila sipembeli mengambil barang tersebut, maka uang panjar tersebut dihitung pembayaran dan bila gagal maka itu milik penjual.

Transaksi Jual Beli Dengan Uang Muka, Bagaimana Hukumnya?

Ada beberapa pendapat yang mengutarakan tentang perihal ini. Di antaranya ada yang menyebut bahwa transaksi ini tidak sah, ada juga yang memperbolehkan hingga ada juga pendapat dari ulama kontemporer. Mari kita simak satu per satu.

Pendapat Yang Menyebutkan Tidak Sah

Mayoritas ulama di kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah dan Syafi’iyah menyebutkan bahwa jual beli dengan DP tidak sah. Hal ini dilatarbelakangi oleh hadits dan adanya unsur fasat dan al-gharar. Adapun hadits yang mendukung argumen ini adalah:

Hadits Amru bin Syuaib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa ia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan sistem uang muka. Imam Maalik berkata : “Dan inilah adalah yang kita lihat –wallahu A’lam- seorang membeli budak atau menyewa hewan kendaraan kemudian berkata, ‘Saya berikan kepadamu satu dinar dengan ketentuan apabila saya membatalkan (tidak jadi) membeli atau tidak jadi menyewanya, maka uang yang telah saya berikan itu menjadi milikmu.

Selain itu, disebutkan juga bahwa jenis transaksi jual beli ini termasuk dalam golongan memakan harta orang lain secara batil. Sebab salah satu dari dua syarat batil yaitu memberikan uang panjar.

Pendapat Yang Memperbolehkan

Pendapat madzhab Hambaliyyah menyatakan bahwa jual beli dengan uang muka hukumnya diperbolehkan. Salah satu pendukung argumentasinya adalah Atsar yang berbunyi:

Dari Nafi bin Al-Harits, sesungguhnya ia pernah membelikan sebuah bangunan penjara untuk Umar dari Shafwan bin Umayyah, (dengan ketentuan) Apabila Umar suka. Bila tidak, maka Shafwan berhak mendapatkan uang sekian dan sekian.

Selain itu, disebutkan juga bahwa uang muka adalah bentuk kompensasi yang ditujukan untuk penjual karena menunggu dan menyimpan barang. Karena hal itu, si penjual bisa saja kehilangan kesempatan untuk berjualan maka uang muka dijadikan sebagai syarat.

Pendapat Ulama Kontemporer

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ra dilansir dari Almanhaj mengatakan bahwa tidak mengapa mengambil uang muka tersebut, menurut pendapat yang rajih dari 2 pendapat ulama. Apabila penjual dan pembeli sudah sepakat untuk itu dan jual belinya tidak dilanjutkan.

Baca Juga Artikel Terbaru Kami

Blog, Inspirasi Islami
Keutamaan Sholat Tepat Waktu dan Tips Melaksanakannya 6 December 2021
Blog, Inspirasi Islami
Doa Pagi Yang Berisi Permintaan Rasulullah 2 December 2021
Blog, Inspirasi Islami
Jangan Membaca Al-qur’an Dengan Niat Berikut Ini 30 November 2021